Beranda > 04. Artikel > “BB made in Lupoyo”

“BB made in Lupoyo”


“Siapa yang saat ini tidak kenal dengan BB? Tua, muda, pria, wanita, pelajar, pekerja, dari mulai direktur sampai karyawan biasa, semua mengenal dan terbiasa dengannya. Baik dalam keadaan susah maupun senang, dapat menjadi teman berbagi cerita, tawa dan canda. Namun tentu tidak semua orang tahu bahwa di desa Lupoyo Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo, sebagian warganya, khususnya kalangan perempuan sudah lama sukses memproduksi BB. Woooww luar biasa!”

image

Seperti apa dan bagaimana BB yang diproduksi oleh kelompok perempuan di desa Lupoyo?

Penulis: Rustam Anwar, Fasilitator Kecamatan (FK) Telaga Biru.

PNPM MPd, Gorontalo – Salah satu produk makanan lokal masyarakat Gorontalo yang sudah dikenal sejak dahulu kala adalah biskuit putar. Namun bagi telinga masyarakat Gorontalo biskuit ini lebih familiar dengan nama Biskoi Bilibidu (BB) alias biskuit yang diputar pake tangan. Penggunaan istilah putar ini dapat dipahami dari teknis pembuatan kue yang menggunakan tangan untuk memutar adonan kue sehingga berbentuk seperti pahatan kue yang tergulung.

BB yang ini sangat digemari mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Biskuit yang terbuat dari bahan Terigu ini rasanya manis dan renyah karena ditaburi gula putih halus dipermukaannya. Hal yang paling unik dan sensasional yang menjadi ciri khas biskuit ini adalah saat terdengar bunyi gemeratak kue hancur dikunyah oleh gigi saat memakannya. Memang kue ini sekilas nampak keras, tapi setelah di kunyah langsung terasa renyahnya sehingga terasa nikmat di lidah para penikmatnya.

Bagi Kelompok Usaha Bersama ( KUBE ) Lestari yang berada di Desa Lupoyo Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo, biskuit ini menjadi produk unggulan kelompok disamping produk makanan olahan lainnya. Sejak mendapatkan tambahan modal dari PNPM pada bulan juni tahun 2011, omset penjualan biskuit oleh kelompok ini terus mengalami peningkatan disertai perluasan wilayah jaringan pemasarannya yang terus merambah hingga keluar daerah seperti Pohuwato dan Manado.

Sejarah pembentukan kelompok

Pada awalnya usaha produksi Biskoi Bilibidu ini hanya diminati oleh beberapa ibu rumah tangga yang memiliki modal usaha pas-pasan, skala usahanya pun terbilang masih kecil karena area penjualannya masih seputar lingkungan tetangga dan masyarakat desa Lupoyo. Namun seiring waktu, permintaan pasar terhadap produk ini terus meningkat meski tidak ditopang oleh modal yang cukup sehingga sulit buat ibu-ibu ini untuk memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal usaha. Untungnya sosialisasi PNPM di Tahun 2011 memberi peluang bagi ibu-ibu pembuat kue biskuit putar ini untuk mengakses modal SPKP PNPM dari UPK Kec. Telaga Biru. Maka berbekal sosialisasi ini berkumpulah ibu-ibu sebanyak 14 orang membentuk kelompok SPKP yang kemudian diberi nama Kelompok Lestari. Dipilihnya nama Lestari menjadi nama kelompok ini dengan maksud agar usaha pembuatan kue ini tetap lestari dan berkesinambungan.

image

Rupanya rencana usaha Kelompok Lestari yang terdiri dari 14 orang yang termuat dalam propasal ini berhasil direkomendasi oleh Tim verifikasi setelah melalui tahapan verifikasi dan akhirnya pada bulan Juni Tahun 2011, kelompok ini mendapat bantuan pinjaman dari UPK Kec. Telaga Biru sebesar Rp. 17.000.000,- dimana masing-masing anggota kelompok mendapatkan pinjaman modal usaha pada kisaran 1 juta sampai 1,5 juta rupiah.

Omset penjualan 1800 bungkus perhari

Usaha pembuatan Biskuit Putar oleh kelompok Lestari, saat ini kian lestari dan terus berkembang. Anggotanya yang awalnya berjumlah 14 orang pun sudah bertambah menjadi 18 orang. Jenis biskuit olahan yang dibuatpun sudah mengalami diversifikasi atau penambahan jenis produk lainnya seperti kue Keong, kerawang dan lainnya.

Menurut penjelasan Ibu Ningsih Isa yang didampingi Ibu Irvi Usman sebagai Ketua dan Bendahara Kelompok Lestari bahwa setiap anggota kelompok dengan dibantu 6-7 orang karyawan mampu memproduksi biskuit sebanyak 800 – 1800 bungkus perhari. Dengan harga jual Rp. 800/ bungkus, maka omset penjualan mereka saat ini dalam sehari bisa mencapai Rp. 1.440.000/hari. Sehingganya jika penjualan kelompok ini bisa konsisten selama sebulan maka diakumulasi selama 30 hari omsetnya bisa diprediksi mencapai Rp. 43.200.000/bulan. Dari perkiraan omset sebesar ini dikurangi biaya produksi yang dikeluarkan sebesar 50 persen, maka kelompok ini bisa meraup keuntungan sekitar Rp. 21.000.000 / bulan.

Angka penjualan ini memang cukup fantastis jika dilihat dari skala produksi yang sifatnya Rumah Tangga, namun dari aspek pemasarannya yang telah meluas hingga Kabupaten Pohuwato dan Kota Manado, maka bisa dibilang kelompok ini cukup berprestasi dalam mengembangkan jaringan pemasarannya. Bapak Iwan suami dari Bendahara Kelompok yang ikut membantu pemasarannya menyebutkan bahwa biskuit hasil produksi kelompok lestari ini mampu bersaing dengan produk sejenis yang diproduksi dari kabupaten lain. Bahkan menurutnya biskuit kelompoknya ini lebih disukai karena rasanya gurih dan renyah dibanding biskuit sejenis yang sudah dikemas dan bermerek.

image

Hambatan dan Harapan kelompok

Setiap usaha pasti selalu diiringi kendala dan hambatan, hal yang sama juga dialami oleh kelompok Lestari. Dalam menjalankan usaha ini, kelompok yang bercita-cita kelak bisa membangun pabrik sendiri ini mengeluhkan belum adanya mesin pencetak adonan kue yang bisa meringankan tenaga para karyawannya. Karena selama ini, teknik memutar adonan kue masih manual atau masih menggunakan tangan. “..Andaikan ada alat itu pasti saya beli…” kata Ibu Ningsih sambil terus memainkan tangannya memutar adonan kue saat kami wawancarai. Namun rasa syukur nampak jelas terpancar dari raut muka Ibu Ningsih, karena dengan usaha ini beliau mampu memenuhi semua kebutuhan keluarganya termasuk menyekolahkan anak-anaknya.Ibu yang kini dikarunia 3 orang anak ini juga tak lupa berterima kasih kepada PNPM yang dengan bantuan pinjaman modal usaha dari UPK ini, selama 3 tahun sejak 2011, usaha biskuit putar ini telah memutar kembali roda ekonomi rumah tangganya yang sempat lesu di masa lalu. (Diposting oleh unit KIE/DRogi)

Kategori:04. Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: