Beranda > 04. Artikel > Kisah Gopasa dan Torosiaje

Kisah Gopasa dan Torosiaje


PNPM Perdesaan, Gorontalo –

“Gopasa? Apa itu? Ada yang tahu?”

“Bagaimana dengan Torosiaje? Masih juga belum tahu?”

Tidak semua orang tahu apa itu Gopasa. Mungkin hanya segelintir saja. Terdengar asing. Namun jika disebut Torosiaje, tentu banyak orang yang mengenalnya, khususnya di Gorontalo. Torosiaje sekarang semakin dikenal orang. Salah satu destinasi wisata pesisir laut, khususnya kehidupan asli masyarakat nelayan tradisional.

Tulisan di bawah ini akan menceritakan tentang hubungan antara “Gopasa” dan “Torosiaje”. Khususnya pengalaman dan pengetahuan lokal masyarakat desa Torosiaje dalam memanfaatkan bahan bangunan, khususnya kayu, dalam membangun berbagai prasarana sarana yang ada di desa tersebut, serta hubungannya kegiatan PNPM Perdesaan.

image

Monitoring kegiatan pembuatan Jembatan / Jalan titian ( PNPM-Perdesaan TA. 2013 ) di Desa Torosiaje Kec. Popayato – Kab. Pohuwato Prop. Gorontalo.

Tentang Torosiaje

Desa Torosiaje merupakan salah satu dari banyak desa pesisir di teluk Tomini yang berada di Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Sejak awal terbentuknya desa Torosiaje pada tahun 1901 telah dihuni oleh mayoritas suku Bajo. Nama desa Torosiaje sendiri berasal dari bahasa Bajo, yakni “Toro” yang berarti “Tanjung” dan “Siaje” yang berarti “Sihaji”. Sedangkan dalam bahasa Bugis artinya “Koro Siajeku” yang berarti “disana saudara kita”. Namun dalam perkembangannya kata ini mengalami distorsi dalam pelafalannya, sehingga saat ini disebut Torosiaje.

Sebelum era otonomi daerah desa ini menjadi bagian dari Kabupaten Gorontalo. Selanjutnya pada tahun 2004 menjadi bagian dari Kabupaten Pohuwato, setelah sempat sebelumnya menjadi bagian dari Kabupaten Boalemo. Desa Torosiaje pada tahun 2003 secara administratif dibagi menjadi dua, yakni desa Torosiaje Jaya yang terletak di daratan atau yang biasa disebut masyarakat “Torosiaje Darat” dan desa Torosiaje yang terletak di perairan (Laut) yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan “Torosiaje Laut”. Desa Torosiaje Laut sendiri terdiri dari dua dusun, yakni dusun Mutiara dan dusun Bahari Jaya. Kedua dusun ini dibatasi oleh sebuah jembatan sebagai pintu masuk dan keluar desa Torosiaje.

Masyarakat Torosiaje adalah masyarakat dari suku Bajo yang hidup sepenuhnya ada di atas lautan, termasuk pemukiman mereka juga dibangun di atas air laut. Selama bertahun-tahun mereka membangun pemukiman dengan konstruksi yang sederhana yang terbuat dari bahan kayu. Secara turun temurun juga berkali-kali mengganti bangunan rumahnya yang berdiri diatas laut. Hal itu semakin lama cukup merepotkan ketika kelompok masyarakat ini berkembang dengan jumlah yang semakin besar, karena dalam budaya suku Bajo jika ada salah satu orang membangun atau mengganti rumahnya akan di kerjakan secara gotong royong. Tentu ini akan menghabiskan waktu untuk melaut, untuk mencari nafkah.

Dari permasalahan ini berbagai usaha dilakukan agar rumahnya yang berdiri di atas laut dapat awet bertahan lama, termasuk mencoba mengganti tiang penyangga rumah dengan bahan dari berbagai jenis kayu, termasuk mengganti dengan bahan cor beton. Namun hal ini tidak kunjung membaik hingga berpuluh-puluh tahun bahkan seratusan tahun lamanya bila dihitung sejak suku Bajo berdiam membuat rumah sejak nenek moyang mereka.

Kata sebagian besar orang, kegagalan adalah guru yang paling baik dan sangat berharga bagi orang yang telah pernah mengalami kegagalan. Demikian juga yang dialami oleh masyarakat desa apung Torosiaje, Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato.

Secara tidak sengaja ada seseorang yang membuat tempat penjemuran ikan (di atas air laut) menggunakan bahan dari kayu Gopasa Batu dan setelah di amati, ternyata tempat penjemuran ikan itu sudah lama tidak rusak-rusak dan lebih awet dari tiang rumah mereka. Dari situlah di ketahui bahwa batang kayu Gopasa Batu mempunyai ketahanan terendam dalam air laut yang sangat lama, bisa tahan hingga 30 tahun.

Pertama kali diketahui bahwa kayu Gopasa mempunyai keawetan terendam dalam air laut oleh seorang anggota masyarakat suku Bajo yang bernama Hakim pada tahun 1975. Mulai dari situlah masyarakat suku Bajo secara berangsur-angsur menggunakan kayu Gopasa Batu untuk mengganti tiang penyangga rumah mereka. Terbukti memang bahwa kayu Gopasa Batu mempunyai ketahanan awet bila terendam air laut. Selain untuk tiang penyangga rumah, Gopasa Batu juga kemudian digunakan untuk mengganti jalan penghubung antar rumah mereka yang berupa jembatan titian yang terbuat dari bahan kayu.

Peran serta Program PNPM Perdesaan dalam membangun pemukiman dan akses rumah suku Bajo di mulai sejak tahun 2008 dengan membangun Gedung TK. Dilanjutkan dengan membangun akses jalan titian yang terbuat dari bahan kayu Gopasa Batu pada tahun 2011, 2012, 2013 dan tahun 2014 secara berturut-turut.

image

Pemasangan / penggunaan kayu Gopasa Batu sebagai tiang Jembatan / Jalan titian ( PNPM-Perdesaan TA. 2013 ) di Desa Torosiaje Kec. Popayato – Kab. Pohuwato Prop. Gorontalo.

Tentang Gopasa

Jadi sudah tahu apa itu Gopasa? dan seperti apa Gopasa yang biasa digunakan masyarakat desa Torosiaje dalam membangun prasarana sarana yang ada di desa meraka?

Amat wajar bagi sebagian besar masyarakat umum tidak paham dengan kata Gopasa , bahkan bagi pelaku di bidang infrastruktur-pun banyak yang belum mengetahuinya.

Gopasa adalah salah satu jenis kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan yang khusus terendam dalam air laut. Penilaian kualitas/mutu kayu berdasarkan pada tingkat kekuatan dalam menerima beban dan besarnya momen kelenturan pada saat dipasang dalam sebuah konstruksi yang menggunakan kayu, juga berdasarkan tingkat keawetan kayu bila kayu terkena cuaca secara langsung baik terhadap air hujan maupun terkena panas matahari secara langsung.

Kita mengenal kayu jati sebagai kayu yang mempunyai kelas keawetan mutu kayu yang sangat baik jika ditinjau dari keawetannya bila terkena cuaca secara langsung , tidak mudah lapuk, keropos dan seratnya tidak mudah membuka walaupun kena panas secara langsung. Tekstur serat kayunya halus, batang kayunya lurus, sehingga banyak digunakan sebagai rangka atap gedung, kusen dan meubel.

Kita juga mengenal kayu Trembesi yang mempunyai kekuatan lentur yang besar dalam menerima beban yang berat, batang kayunya lurus, namun serat kayunya mudah membuka, sehingga kayu Trembesi biasa digunakan untuk bahan konstruksi yang menahan beban lentur/momen yang berat , misalnya sebagai gelagar jembatan pada konstruksi jembatan kayu.

Kayu Gopasa tidaklah mempunyai semua keunggulan seperti halnya kayu Jati maupun kayu Trembesi, terutama untuk batang kayunya yang cenderung tidak lurus pada jarak yang cukup panjang. Namun kayu Gopasa mempunyai keunggulan kualitas yang tidak di miliki oleh kedua jenis kayu tersebut yaitu kayu Jati dan kayu Trembesi. Keunggulan kayu Gopasa adalah mempunyai keawetan lebih bila kayu tersebut terendam dalam air laut, dibandingkan dengan kayu Jati yang notabene diakui mempunyai kelas awet dan kayu Trembesi yang mempunyai kelas kuat.

image

Gopasa Batu sebagai konstruksi yang tahan terhadap genangan air laut, Jalan titian (PNPM-Perdesaan TA. 2013 ) di Desa Torosiaje Kec. Popayato – Kab. Pohuwato Prop. Gorontalo.

Kayu Gopasa ada tiga jenisnya, yakni Gopasa Gaba, Gopasa Tanduk dan Gopasa Batu. Ciri-ciri nya sebagai berikut: Gopasa Gaba, kulit dan daging kayunya berwarna putih, permukaan kulinya halus. Gopasa Tanduk, kulit dan daging kayunya berwarna kekuningan, permukaan kulinya halus. Gopasa Batu, kulitnya berwarna kuning, daging kayunya berwarna kemerahan, bila batang kayunya dimasukkan ke dalam air, warna airnya menjadi kekuningan. Dari ke tiga jenis kayu Gopasa tersebut, bila dibandingkan, maka kayu Gopasa Batu lah yang mempunyai keawetan lebih bila terendam dalam air laut.

Kayu Gopasa banyak tumbuh di lereng gunung yang dekat dengan laut yang tanahnya cadas. Di propinsi Gorontalo yang semula banyak adalah di daerah Popayato dan Wanggarasi Timur. Karena banyaknya pemanfaatan lahan dan penebangan hutan, kondisinya sekarang kayu Gopasa sudah sangat jarang seta makin sulit ditemui.

Itulah kisah Torosiaje dan Gopasa …….

Penulis: Ir. Nuryadi/Spesialis Infrastruktur PNPM MPd Prov. Gorontalo

Catatan :

Itulah pengalaman terbaik oleh suku Bajo di Kampung Apung Torosiaje yang berhasil ditelusuri oleh spesialis infrastruktur PNPM Mandiri Perdesaan Propinsi Gorontalo yang sangat berharga bagi kehidupan dan pembangunan masyarakat kampung apung Torosiaje dan bagi kita semua.

Kategori:04. Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: